Mari Hunting Kuliner :), Inilah Beberapa Jenis Kuliner Yang Ada di Yogyakarta
Bakmi Kadin, Bakmi Jawa Spektakuler dari Jogja
Bicara
tentang kuliner Jogja, rasanya kurang kalau belum membahas bakmi jawa. Jenis
makanan ini bisa jadi salah satu jenis kuliner paling terkenal. Dan salah satu
bakmi jawa paling populer di kalangan pecintanya adalah Bakmi Kadin. Bisa
dibilang kunjungan saya ke Bakmi Kadin kali ini cukup nekat karena kunjungan
saya itu berlangsung di Malam Minggu, tepatnya jam makan malam. Hal ini cukup
nekat karena bakmi jawa yang terletak di kawasan Bintaran tersebut sudah pasti
akan super padat. Berhubung sudah terlanjur berangkat, ya saya berdoa saja agar
saya tidak perlu mengantri panjang.
Sesampainya
di Bakmi Kadin, saya segera memesan satu porsi bakmi jawa godog (rebus)
dan satu gelas bajigur. Dua menu yang menjadi ciri khas dari rumah makan ini.
Konon katanya setiap porsi bakmi yang disajikan dimasak satu per satu, tidak
sekaligus. Awalnya sempat cemas akan menunggu pesanan cukup lama tapi begitu
melihat rentetan gerobak lengkap dengan anglo-nya, saya jadi optimis. Benar
dugaan saya, waktu yang dibutuhkan untuk membuat pesanan saya tidak terlalu
lama. Warna dari bakmi godog ini sebenarnya tidak terlalu menggairahkan,
didominasi warna putih. Namun jangan salah, bakmi jawa ini benar-benar gurih.
Gurihnya bakmi ini juga didukung dengan penggunaan telur bebek yang tentunya meningkatkan
rasa gurih dari kuah bakmi tersebut. Setelah cukup lama tidak mencicipi bakmi
Jawa, saya merasa bahwa Bakmi Kadin berhasil memuaskan saya malam itu.
Selain
terkenal dengan bakmi jawa-nya, Bakmi Kadin juga dikenal dengan wedang
Bajigurnya. Pada dasarnya minuman ini memiliki karakteristik rasa yang tidak
berbeda jauh dengan kolak. Hanya terdapat sedikit perbedaan dalam
penggunaan bahan dasarnya. Wedang Bajigur terbilang lebih gurih
dibandingkan kolak yang didominasi rasa manis. Sedangkan untuk isian-nya,
wedang Bajigur identik dengan potongan-potongan kelapa berbentuk
kubus dan juga roti tawar. Lezat dan menghangatkan. Cita rasa kelezatan dari Bakmi Kadin ini
nampaknya benar-benar membius siapa saja yang pernah mencicipinya. Tidak heran
jika bakmi ini terbilang sangat populer di kalangan pecinta kuliner. Meski
terbilang cukup mahal, Rp 20.000 untuk satu porsi bakmi jawa godog dan wedang
Bajigur, namun bakmi yang sudah dirintis lebih dari 50 tahun ini
benar-benar wajib dicoba. Dan saya pun tidak kapok untuk kembali lagi dan
menikmati semua kelezatan di Bakmi Kadin.
Gudeg Kering, Gudeg Basah, dan Gudeg Manggar
Mungkin
bagi kebanyakan orang, gudeg adalah gudeg. Namun sebenarnya ada 3 jenis gudeg
yang berbeda; gudeg basah, gudeg kering, dan gudeg manggar. Gudeg basah
disajikan dengan kuah santan nyemek yang gurih dan banyak diburu untuk
menu sarapan pagi. Gudeg jenis ini dapat ditemukan di sepanjang Jalan Kaliurang
kawasan Barek, Gudeg Batas Kota (Jl. Adisucipto depan Saphir Square) atau mbok-mbok
penjual gudeg di pasar-pasar tradisional.
Gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama hingga kuahnya mengering dan
warnanya lebih kecoklatan. Rasanya juga lebih manis. Gudeg jenis ini bisa tahan
hingga 24 jam atau bahkan lebih jika dimasukkan ke dalam lemari es sehingga
banyak diburu orang sebagai oleh-oleh. Biasanya penjual mengemasnya dalam
kardus, besek (kardus dari anyaman bambu) atau kendil tanah liat. Tidak perlu
bingung kemana harus mencari karena sebagian besar warung gudeg seperti Gudeg
@Yu-Narni (+62 274 867231; Jl. Palagan Tentara Pelajar 102), Gudeg Yu Djum (+62
274 515968; Jl. Kaliurang Km 4,5 Karang asem CT III/22), Gudeg Bu Ahmad (+62
274 520049; Jl. Kaliurang km 4,5), Gudeg Gudeg Bu
Tjitro 1925 1925 (+62 274 564734; Jl. Janti 330), dan penjual gudeg
di daerah Wijilan menjual oleh-oleh istimewa ini.
Selain
gudeg nangka muda, Jogja juga memiliki gudeg manggar. Manggar alias bunga
kelapa menghasilkan sensasi kelezatan tersendiri pada sajian kuliner ini.
Bunganya terasa crunchy sementara tangkainya sekilas memiliki rasa mirip jamur
tiram. Semakin terbatasnya persediaan manggar menyebabkan kuliner ini semakin
susah ditemukan. Beberapa penjual terpaksa menutup warung dan hanya melayani pemesanan
saja. Hanya beberapa tempat yang masih bertahan seperti beberapa kawasan di
daerah Bantul dan Warung Makan Mbok Brewok (+62 274 445697; Jl. Parangtritis
km.7).
Oseng-Oseng Mercon (Yogyakarta)
Hoiii...para penyuka masakan
pedas, saatnya berpestaa!! Hueheheheh....inilah masakan yang saya
rekomendasikan dengan sangat-sangat-sangat untuk para penikmat masakan pedas.
Namanya adalah Oseng-Oseng
Mercon. Demi melihat diksi "mercon" dan "pedas", maka kita
pun pasti langsung paham...kenapa namanya jadi Oseng-Oseng Mercon.
Datanglah ke kawasan Jl
Ahmad Dahlan, maka akan Anda temukan sejumlah warung lesehan yang menjual
Oseng-Oseng Mercon. Untuk menuju jalan ini gampang kok, dari arah Malioboro
lurus saja sampai titik nol kilometer (perempatan depan Benteng Vredreburg),
lalu belok kanan saja. Nah, itulah kawasan Jl Ahmad Dahlan.
Saya memilih Oseng-Oseng
Mercon di depan SMA Muhammadiyah 5, di jalan yang sama. Yaitu warung lesehan
milik Bu Narti. Konon nih, resepnya sudah ada turun temurun sejak tahun
1940-an. Lalu apa sih sebenarnya Oseng-Oseng Mercon itu? ini adalah masakan
bumbu oseng-oseng biasa, tetapi isinya didominasi oleh thethelan, koyor...kalau
roaming karena menggunakan bahasa Jawa, maka biar gampang disebut lemak sapi.
Yang mendominasi lainnya? tentunya cabe. Bagi saya, sebenarnya masakan ini
sedaaaaap....bumbunya terasa. Kalau orang Jawa bilang nglawuhi atau
teman yang sangat pas bila disandingkan dengan nasi. Tetapi kok sebenarnya?
Jadi bagi saya, yang tidak sebenarnya apa dong? ya maaf, karena saya bukan
penyuka pedas yang sangat (sambal sih oke aja, tapi bukan yang menyengat), maka
saya tidak bisa menghabiskan banyak. Cukup beberapa sendok saja saya sudah
kibar-kibar bendera putih tanda menyerah.
|
Oseng-Oseng
Mercon di masak di atas arang
|
Oseng-Oseng Mercon paling
nikmat dimakan dengan nasi putih hangat, kemudian ada lalapan mentimun sekadar
membuat mulut kita istirahat sebentar dari rasa menyengat hueheueheue.
Disajikan di atas piring kecil, sementara nasinya diletakkan di daun pisang,
makanan ini sering jadi ajang seru-seruan, taruhan bagi mereka yang tidak
bernyali makan pedas hehehe. Seporsinya Rp 7.000 (kalau belum naik ya...soalnya
tempe tahu aja sekarang harganya melangit hihihi). Nasinya Rp 3.000. Kalau
tidak tahan pedas, ada pilihan makanan lain di sini, seperti lele goreng dan
ayam goreng/bakar. Serius, kalau ke Jogja, jangan lupa ya mampir ke sini. :)
PECEL BAYWATCH - Menyantap Pecel Kembang Turi Racikan
Mbah Warno "Anderson"
Warung
Mbah Warno terletak di daerah Kasongan, tepatnya berada di jalan menuju Gunung
Sempu. Warung yang sudah berdiri sejak 35 tahun lalu ini sangat sederhana.
Papan nama warung pecel Mbah Warno ini hanya berukuran 30 x 20 cm2
yang pasti terlewat jika tak benar-benar memerhatikannya. Interior warung diisi
oleh perabot yang fungsional dan apa adanya. Hanya terdapat beberapa meja dan
kursi kayu serta satu dipan bambu. Di belakang meja tempat meletakkan
dagangannya, terdapat dapur berisikan beberapa anglo yang selalu
mengepulkan asap. Mbah Warno menjajakan
menu utama pecel dengan beragam lauk sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan
belut goreng kering, tahu bacem, mangut belut (belut bersantan yang dibumbui
cabai), hingga bakmi goreng. YogYES memesan semuanya agar dapat merasakan aneka
rasa masakan Mbah Warno ini.
Pecel
akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng atau tahu bacem. Lele
goreng di tempat ini dimasak hingga kering sehingga crispy ketika
digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat dinikmati
sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat hidangan lain
seperti belut goreng dengan dua variasinya. Pertama, belut goreng kering yang
berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga bakmi goreng
dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap dari anglo
menambah sensasi rasa dari hidangan di warung ini.
Walau penjual pecel ada
dimana-mana, Pecel Baywatch tetap menawarkan sesuatu yang lain bagi anda.
Sebuah kombinasi kelezatan makanan, suasana pedesaan yang kental, dan keramahan
Mbah Warno "Anderson". (YogYES.com)
Bale Raos, Royal Cuisine Restaurant
Kraton
Yogyakarta sebagai pusat budaya, kaya dengan aneka jenis budaya adiluhung yang
hingga kini masih cukup exis, Salah satunya budaya makanan, GKR Hemas (
Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X yg bertahta saat ini) berupaya untuk
melestarikan salah satu kekayaan Kuliner tersebut serta untuk membuka akses
kepada masyarakat Indonesia untuk mengetahui secara langsung melalui Keberadaan
Bale Raos. Kini masyarakat dapat mencoba aneka Hidangan Khas Kraton yang
disuguhkan oleh Bale Raos.
Bale
Raos terletak dilingkungan keraton Yogyakarta tepatnya di area Kagungan Dalem
Kemagangan yang merupakan akses paling dekat untuk masuk ke Induk Kraton ( Area
Kedaton ), dalam nuansa arsitek Jawa bangunan Joglo yang khas dengan
ornamen Kraton Yogyakarta berdiri dengan agung , serta aura Kraton yang kental
menambah keunikan dalam menikmati hidangan di Bale Raos. Bale Raos Restaurant
mempunyai kapasitas Indoor 100 seat yang terbagi di dua joglo serta kapasitas
sampai 200 seat dalam bentuk kombinasi Indoor dan Out Door Party, dengan
Opening Hour adalah jam 09.30 – 21.30 WIB.
Sajian hidangan di Bale Raos dapat
dinikmati secara :
- A'la Carte,
Buffet Lunch or Dinner
- Sajian Set
Menu ( Full Serve by Waiters)
- Jamuan
Ritztaffel yang anggun
Selain menikmati Hidangan yang khas,
pada hari-hari tertentu dapat dihadirkan live gamelan dan tarian jawa klasik (
beksan ), dan setiap hari Sabtu malam Bale Raos menyajikan live
performance musik keroncongan.
Untuk Acara-acara tertentu bisa
ditampilkan Beksan / Tarian Khas Kraton Yogyakarta serta penampilan Gamelan /
Siteran Jawa
Juru
Masak Bale Raos akan menyuguhkam hidangan bercita rasa tinggi dan khas yaitu
masakan favourite dari para Sultan yang pernah bertahta di Kraton Yogyakarta,
terutama Sultan Hamengku Buwono VII sampai ke Sultan Hamengku Buwono X, serta
berbagai hidangan keluarga Kraton Yogyakarta. Bale Raos merupakan
pilihan tepat untuk berbagai acara baik formal maupun non formal. Antara
lain acara keluarga, menjamu relasi, Gathering, Private Party, maupun sebagai
tempat wisata Kuliner yang Khas dan Authentic.
Sajian
menu menu authentic dari keraton Yogyakarta, antara lain:
Ø Bebek Suwar Suwir ( Sultan HB X )
(Menu khusus keraton Yogyakarta dari irisan daging bebek
yang disajikan dengan irisan nanas goreng dan saus kedondong parut).
Ø Semur Piyik ( Sultan HB IX ), (Hidangan unik dari olahan
burung dara)
Ø Urip urip Gulung ( Sultan HB VII )
(Ikan lele fillet yang digulung kemudian dipanggang
disajikan dengan saus mangut)
Ø Sanggar ( Sultan HB VIII - HB X )
( Menu asli dari keraton Yogyakarta yang dibuat dari irisan
daging sapi dengan bumbu rempah yang dipanggang dengan saputan santan kelapa
dan dijepit dengan bilah bambu)
Ø Soup Timlo ( Sultan HB X ), Soup jawa klasik kombinasi rasa
jahe dan kecap serta paduan aneka bahan
Ø Beer Jawa ( Sultan HB VIII )
Minuman Non Alkohol asli dari keraton Yogyakarta, yang
dibuat dari berbagai macam ramuan seperti jahe, kayu secang, cengkeh, jeruk
limau dll.
Aneka
menu eksoktis di Bale Raos
Ø Kambing Panggang
Ø Bestik Lidah (Variasi sajian bestik lidah sapi dengan saus
kental disajikan dengan kentang ongklok dan serces ( sejenis stoop sayuran
favourite Sri Sultan HB IX )
Ø Bestik Jawa (sapi giling dengan kuah semur manis disajikan
bersama dengan pure kentang dan sauted sayuran slah satu varian hidangan di era
Sri Sultan HB VIII)
Ø Bebek Ungkep Goreng (Hidangan bebek yang diungkep dalam gula
merah dengan bumbu bumbu dan digoreng dengan rasa manis).
Untuk
Kenyamanan Pelayanan , Kami berharap anda dapat melakukan Reservasi
terlebih dulu ke : (0274) 415 550
SATE KLATHAK
Yogyakarta, Aktual.co — Sate
kambing mungkin adalah hal yang biasa bisa ditemui dimana saja di setiap kota.
Tapi, untuk di Yogyakarta, ada satu kuliner khas yang tak boleh anda lewatkan
jika berkunjung. Yakni sate klatak.Sama sebenarnya dengan sate lainnya, dengan
bahan daging kambing muda. Namun ada keunikan tersendiri yang mungkin hanya ada
di jenis sate Klatak. Jika biasanya dimasak menggunakan bumbu aneka macam, sate
Klatak yang terdapat di sepanjang jalan Imogiri Bantul atau terminal bus induk
Giwangan ke selatan itu, hanya dibumbui dengan garam. Lebih khas lagi,
cara memasak satenya pun tidak menggunakan tusuk bambu, melainkan dipanggang
dengan menggunakan jeruji besi. Cara ini dipercaya dapat membuat matang daging
secara lebih sempurna dan merata hingga ke serat-serat dalamnya karena sifat
besi yang sangat baik dalam menghantarkan panas.
Salah satu warung sate
klatak di wilayah jalan Imogiri ini yang cukup tersohor di Yogyakarta bahkan
hingga luar kota, adalah warung yang berada di Pasar Jejeran, Bantul. Selain
itu ada juga beragam warung lain sekitarnya yang juga cukup tenar seperti Pak
Pong, Pak Jono, dan lainnya. Sejumlah seniman Yogya seperti Butet Kartaradjesa,
politisi, hingga artis sering dijumpai tengah nongkrong dan menyantap sate
Klatak ini.
Nama sate Klatak sendiri
banyak yang menyebut karena berasal dari suara saat daging kambing dipanggang
menggunakan jeruji besi itu.Biasanya dalam satu porsi sate ini dijual hanya dua
tusuk. Tapi jangan salah, daging sate ini ukurannya lumayan besar sehingga
dijamin akan mengenyangkan. Harga satu porsi biasanya Rp 12-13 ribu saja. Untuk
menyantap sate yang hanya berbumbu garam ini, biasanya disediakan juga kuah
yang terbuat dari kari. Warung di sepanjang jalan Imogiri khususnya Pasar
Jejeran yang telah sepi pada malam hari biasanya akan ramai dipenuhi para
pecinta sate Klatak dari berbagai daerah. Jarak sentra sate Klatak ini pun dari
pusat Kota Yogyakarta tak berapa jauh, hanya butuh sekitar 20 menit menggunakan
mobil.
Thiwul Ayu "Mbok Sum" Mangunan, Dlingo,
Bantul, Yogyakarta
Berkunjung ke suatu tempat,
tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khas setempat. Berada di
jajaran pegunungan selatan, daerah Mangunan memiliki sebuah kuliner
"ndeso" yang khas dan sayang jika dilewatkan.
Jika
Anda bertandang menjelajahi daerah Mangunan, khusunya Kebun Buah
Mangunan dan Hutan Pinus
Dlingo, tak ada salahnya jika mampir mencicipi makanan khas
masyarakat di kawasan pegunungan kidul ini. Thiwul Ayu "Mbok Sum",
sebuah kuliner khas yang siap menuntaskan rasa kangen maupun rasa penasaran
Anda terhadap panganan pokok pada masa penjajahan ini.
Proses
pengolahan tiwul pun memiliki proses yang cukup panjang dan sedikit rumit.
Singkong yang telah dikupas kemudian dijemur hingga kering untuk kemudian
diolah menjadi tepung gaplek. Setelah menjadi tepung, proses selanjutnya adalah
menguleni adonan dengan cara menaruh tepung gaplek di atas tampah (tempat
berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu) kemudian diperciki air sambil
diaduk-aduk hingga berbentuk butiran-butiran. Adonan ini kemudian dikukus di
dalam dandang hingga matang dan tak lupa diberi campuran daun pandan untuk
menambah aroma pada tiwul. Untuk penambah rasa, biasanya tiwul ini diberi
tambahan gula jawa dan parutan kelapa.
Thiwul
Ayu "Mbok Sum" ini pun sudah melakukan beberapa inovasi dalam hal
rasa sehingga dapat diterima masyarakat di era sekarang ini. Ada beberapa
pilihan rasa tiwul di tempat ini, antara lain adalah tiwul gula jawa, tiwul
gula pasir, tiwul sambal, dan tiwul gurih. Pilihan saya jatuh kepada tiwul gula
jawa. Tiwul ini memiliki tekstur yang kenyal, dengan perpaduan rasa manis dan
gurih yang berasal dari campuran gula jawa dan juga parutan kelapa. Aroma tiwul
pun cukup khas dan menggugah selera. Rasa tiwul ayu "Mbok Sum" memang
sangat pas bagi lidah saya yang berselera ndeso ini. Oh iya sekedar tips,
bagi Anda yang tak terbiasa memakan tiwul, jangan memakan tiwul dalam keadaan
perut yang kosong karena menjadikan perut terasa begah. Sebaiknya Anda makan
makanan biasa dulu sebelum memakan tiwul untuk menghindari gangguan perut
begah.
Walaupun
menjual menu tradisional, namun pengemasan dan juga sistem pemasaran Thiwul Ayu
"Mbok Sum" ini sudah menerapkan cara yang modern lho ! Tiwul-tiwul
dari tempat ini dimasukkan ke dalam kardus makanan dalam penjualannya. Anda pun
dapat memesan tiwul ini melalui telepon maupun melalui email. Tak perlu khawatir
untuk jauh-jauh datang ke daerah Mangunan, karena Thiwul Ayu "Mbok
Sum" sudah menerapkan sistem delivery service ! Hanya saja untuk sistem
pesan antar ini saya kurang tahu harus minimal berapa order dan juga ongkos
kirimnya. Satu buah tiwul ayu ini dihargai Rp 3.500,00 saja, sangat murah
bukan? Nah, bagi Anda penggemar kuliner otentik dan kebetulan sedang menjelajah
daerah Mangunan, jangan lupa mampir ke warung Thiwul Ayu "Mbok Sum"
ini.
keterangan :
warung Thiwul Ayu "Mbok
Sum" ini biasanya sudah buka sejak pagi
CP untuk pemesanan :
HP 081 931 709 303
email :
thiwulayu_mboksum@yahoo.com












