Jumat, 01 Maret 2013

Mengenal Kuliner Yang Ada di Yogyakarta

 Mari Hunting Kuliner :), Inilah Beberapa Jenis Kuliner Yang Ada di Yogyakarta



Bakmi Kadin, Bakmi Jawa Spektakuler dari Jogja

Bicara tentang kuliner Jogja, rasanya kurang kalau belum membahas bakmi jawa. Jenis makanan ini bisa jadi salah satu jenis kuliner paling terkenal. Dan salah satu bakmi jawa paling populer di kalangan pecintanya adalah Bakmi Kadin. Bisa dibilang kunjungan saya ke Bakmi Kadin kali ini cukup nekat karena kunjungan saya itu berlangsung di Malam Minggu, tepatnya jam makan malam. Hal ini cukup nekat karena bakmi jawa yang terletak di kawasan Bintaran tersebut sudah pasti akan super padat. Berhubung sudah terlanjur berangkat, ya saya berdoa saja agar saya tidak perlu mengantri panjang.
Sesampainya di Bakmi Kadin, saya segera memesan satu porsi bakmi jawa godog (rebus) dan satu gelas bajigur. Dua menu yang menjadi ciri khas dari rumah makan ini. Konon katanya setiap porsi bakmi yang disajikan dimasak satu per satu, tidak sekaligus. Awalnya sempat cemas akan menunggu pesanan cukup lama tapi begitu melihat rentetan gerobak lengkap dengan anglo-nya, saya jadi optimis. Benar dugaan saya, waktu yang dibutuhkan untuk membuat pesanan saya tidak terlalu lama. Warna dari bakmi godog ini sebenarnya tidak terlalu menggairahkan, didominasi warna putih. Namun jangan salah, bakmi jawa ini benar-benar gurih. Gurihnya bakmi ini juga didukung dengan penggunaan telur bebek yang tentunya meningkatkan rasa gurih dari kuah bakmi tersebut. Setelah cukup lama tidak mencicipi bakmi Jawa, saya merasa bahwa Bakmi Kadin berhasil memuaskan saya malam itu.
Selain terkenal dengan bakmi jawa-nya, Bakmi Kadin juga dikenal dengan wedang Bajigurnya. Pada dasarnya minuman ini memiliki karakteristik rasa yang tidak berbeda jauh dengan kolak. Hanya terdapat sedikit perbedaan dalam penggunaan bahan dasarnya. Wedang Bajigur terbilang lebih gurih dibandingkan kolak yang didominasi rasa manis. Sedangkan untuk isian-nya, wedang  Bajigur identik dengan potongan-potongan kelapa berbentuk kubus dan juga roti tawar. Lezat dan menghangatkan.  Cita rasa kelezatan dari Bakmi Kadin ini nampaknya benar-benar membius siapa saja yang pernah mencicipinya. Tidak heran jika bakmi ini terbilang sangat populer di kalangan pecinta kuliner. Meski terbilang cukup mahal, Rp 20.000 untuk satu porsi bakmi jawa godog dan wedang Bajigur, namun bakmi yang sudah dirintis lebih dari 50 tahun ini benar-benar wajib dicoba. Dan saya pun tidak kapok untuk kembali lagi dan menikmati semua kelezatan di Bakmi Kadin.

Gudeg Kering, Gudeg Basah, dan Gudeg Manggar


Mungkin bagi kebanyakan orang, gudeg adalah gudeg. Namun sebenarnya ada 3 jenis gudeg yang berbeda; gudeg basah, gudeg kering, dan gudeg manggar. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan nyemek yang gurih dan banyak diburu untuk menu sarapan pagi. Gudeg jenis ini dapat ditemukan di sepanjang Jalan Kaliurang kawasan Barek, Gudeg Batas Kota (Jl. Adisucipto depan Saphir Square) atau mbok-mbok penjual gudeg di pasar-pasar tradisional.
Gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama hingga kuahnya mengering dan warnanya lebih kecoklatan. Rasanya juga lebih manis. Gudeg jenis ini bisa tahan hingga 24 jam atau bahkan lebih jika dimasukkan ke dalam lemari es sehingga banyak diburu orang sebagai oleh-oleh. Biasanya penjual mengemasnya dalam kardus, besek (kardus dari anyaman bambu) atau kendil tanah liat. Tidak perlu bingung kemana harus mencari karena sebagian besar warung gudeg seperti Gudeg @Yu-Narni (+62 274 867231; Jl. Palagan Tentara Pelajar 102), Gudeg Yu Djum (+62 274 515968; Jl. Kaliurang Km 4,5 Karang asem CT III/22), Gudeg Bu Ahmad (+62 274 520049; Jl. Kaliurang km 4,5), Gudeg Gudeg Bu Tjitro 1925 1925 (+62 274 564734; Jl. Janti 330), dan penjual gudeg di daerah Wijilan menjual oleh-oleh istimewa ini.
Selain gudeg nangka muda, Jogja juga memiliki gudeg manggar. Manggar alias bunga kelapa menghasilkan sensasi kelezatan tersendiri pada sajian kuliner ini. Bunganya terasa crunchy sementara tangkainya sekilas memiliki rasa mirip jamur tiram. Semakin terbatasnya persediaan manggar menyebabkan kuliner ini semakin susah ditemukan. Beberapa penjual terpaksa menutup warung dan hanya melayani pemesanan saja. Hanya beberapa tempat yang masih bertahan seperti beberapa kawasan di daerah Bantul dan Warung Makan Mbok Brewok (+62 274 445697; Jl. Parangtritis km.7).

Oseng-Oseng Mercon (Yogyakarta)

Hoiii...para penyuka masakan pedas, saatnya berpestaa!! Hueheheheh....inilah masakan yang saya rekomendasikan dengan sangat-sangat-sangat untuk para penikmat masakan pedas.
Namanya adalah Oseng-Oseng Mercon. Demi melihat diksi "mercon" dan "pedas", maka kita pun pasti langsung paham...kenapa namanya jadi Oseng-Oseng Mercon.
Datanglah ke kawasan Jl Ahmad Dahlan, maka akan Anda temukan sejumlah warung lesehan yang menjual Oseng-Oseng Mercon. Untuk menuju jalan ini gampang kok, dari arah Malioboro lurus saja sampai titik nol kilometer (perempatan depan Benteng Vredreburg), lalu belok kanan saja. Nah, itulah kawasan Jl Ahmad Dahlan.
Saya memilih Oseng-Oseng Mercon di depan SMA Muhammadiyah 5, di  jalan yang sama. Yaitu warung lesehan milik Bu Narti. Konon nih, resepnya sudah ada turun temurun sejak tahun 1940-an. Lalu apa sih sebenarnya Oseng-Oseng Mercon itu? ini adalah masakan bumbu oseng-oseng biasa, tetapi isinya didominasi oleh thethelan, koyor...kalau roaming karena menggunakan bahasa Jawa, maka biar gampang disebut lemak sapi. Yang mendominasi lainnya? tentunya cabe. Bagi saya, sebenarnya masakan ini sedaaaaap....bumbunya terasa. Kalau orang Jawa bilang nglawuhi atau teman yang sangat pas bila disandingkan dengan nasi. Tetapi kok sebenarnya? Jadi bagi saya, yang tidak sebenarnya apa dong? ya maaf, karena saya bukan penyuka pedas yang sangat (sambal sih oke aja, tapi bukan yang menyengat), maka saya tidak bisa menghabiskan banyak. Cukup beberapa sendok saja saya sudah kibar-kibar bendera putih tanda menyerah. 
Oseng-Oseng Mercon di masak di atas arang


Oseng-Oseng Mercon paling nikmat dimakan dengan nasi putih hangat, kemudian ada lalapan mentimun sekadar membuat mulut kita istirahat sebentar dari rasa menyengat hueheueheue. Disajikan di atas piring kecil, sementara nasinya diletakkan di daun pisang, makanan ini sering jadi ajang seru-seruan, taruhan bagi mereka yang tidak bernyali makan pedas hehehe. Seporsinya Rp 7.000 (kalau belum naik ya...soalnya tempe tahu aja sekarang harganya melangit hihihi). Nasinya Rp 3.000. Kalau tidak tahan pedas, ada pilihan makanan lain di sini, seperti lele goreng dan ayam goreng/bakar. Serius, kalau ke Jogja, jangan lupa ya mampir ke sini. :)








PECEL BAYWATCH - Menyantap Pecel Kembang Turi Racikan Mbah Warno "Anderson"



Warung Mbah Warno terletak di daerah Kasongan, tepatnya berada di jalan menuju Gunung Sempu. Warung yang sudah berdiri sejak 35 tahun lalu ini sangat sederhana. Papan nama warung pecel Mbah Warno ini hanya berukuran 30 x 20 cm2 yang pasti terlewat jika tak benar-benar memerhatikannya. Interior warung diisi oleh perabot yang fungsional dan apa adanya. Hanya terdapat beberapa meja dan kursi kayu serta satu dipan bambu. Di belakang meja tempat meletakkan dagangannya, terdapat dapur berisikan beberapa anglo yang selalu mengepulkan asap.  Mbah Warno menjajakan menu utama pecel dengan beragam lauk sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan belut goreng kering, tahu bacem, mangut belut (belut bersantan yang dibumbui cabai), hingga bakmi goreng. YogYES memesan semuanya agar dapat merasakan aneka rasa masakan Mbah Warno ini.

Pecel akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng atau tahu bacem. Lele goreng di tempat ini dimasak hingga kering sehingga crispy ketika digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat dinikmati sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat hidangan lain seperti belut goreng dengan dua variasinya. Pertama, belut goreng kering yang berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga bakmi goreng dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap dari anglo menambah sensasi rasa dari hidangan di warung ini.
Walau penjual pecel ada dimana-mana, Pecel Baywatch tetap menawarkan sesuatu yang lain bagi anda. Sebuah kombinasi kelezatan makanan, suasana pedesaan yang kental, dan keramahan Mbah Warno "Anderson". (YogYES.com)

Bale Raos, Royal Cuisine Restaurant

Kraton Yogyakarta sebagai pusat budaya, kaya dengan aneka jenis budaya adiluhung yang hingga kini masih cukup exis, Salah satunya budaya makanan, GKR Hemas ( Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X yg bertahta saat ini) berupaya untuk melestarikan salah satu kekayaan Kuliner tersebut serta untuk membuka akses kepada masyarakat Indonesia untuk mengetahui secara langsung melalui Keberadaan Bale Raos. Kini masyarakat dapat mencoba aneka Hidangan Khas Kraton yang disuguhkan oleh Bale Raos.

Bale Raos terletak dilingkungan keraton Yogyakarta tepatnya di area Kagungan Dalem Kemagangan yang merupakan akses paling dekat untuk masuk ke Induk Kraton ( Area Kedaton ), dalam nuansa arsitek Jawa bangunan Joglo yang khas dengan ornamen Kraton Yogyakarta berdiri dengan agung , serta aura Kraton yang kental menambah keunikan dalam menikmati hidangan di Bale Raos. Bale Raos Restaurant mempunyai kapasitas Indoor 100 seat yang terbagi di dua joglo serta kapasitas sampai 200 seat dalam bentuk kombinasi Indoor dan Out Door Party, dengan Opening Hour adalah jam 09.30 – 21.30 WIB.

Sajian hidangan di Bale Raos dapat dinikmati secara :
-    A'la Carte, Buffet Lunch or Dinner
-    Sajian Set Menu ( Full Serve by Waiters)
-    Jamuan Ritztaffel yang anggun
Selain menikmati Hidangan yang khas, pada hari-hari tertentu dapat dihadirkan live gamelan dan tarian jawa klasik ( beksan ), dan setiap hari Sabtu malam Bale Raos menyajikan live performance musik keroncongan.
Untuk Acara-acara tertentu bisa ditampilkan Beksan / Tarian Khas Kraton Yogyakarta serta penampilan Gamelan / Siteran Jawa

Juru Masak Bale Raos akan menyuguhkam hidangan bercita rasa tinggi dan khas yaitu masakan favourite dari para Sultan yang pernah bertahta di Kraton Yogyakarta, terutama Sultan Hamengku Buwono VII sampai ke Sultan Hamengku Buwono X, serta berbagai hidangan keluarga Kraton Yogyakarta. Bale Raos merupakan pilihan tepat untuk berbagai acara baik formal maupun non formal. Antara lain acara keluarga, menjamu relasi, Gathering, Private Party, maupun sebagai tempat wisata Kuliner yang Khas dan Authentic.

Sajian menu menu authentic dari keraton Yogyakarta, antara lain:

Ø Bebek Suwar Suwir ( Sultan HB X )
(Menu khusus keraton Yogyakarta dari irisan daging bebek yang disajikan dengan irisan nanas goreng dan saus kedondong parut).
Ø Semur Piyik ( Sultan HB IX ), (Hidangan unik dari olahan burung dara)
Ø Urip urip Gulung ( Sultan HB VII )
(Ikan lele fillet yang digulung kemudian dipanggang disajikan dengan saus mangut)
Ø Sanggar ( Sultan HB VIII - HB X )
( Menu asli dari keraton Yogyakarta yang dibuat dari irisan daging sapi dengan bumbu rempah yang dipanggang dengan saputan santan kelapa dan dijepit dengan bilah bambu)
Ø Soup Timlo ( Sultan HB X ), Soup jawa klasik kombinasi rasa jahe dan kecap serta paduan aneka bahan
Ø Beer Jawa ( Sultan HB VIII )
Minuman Non Alkohol asli dari keraton Yogyakarta, yang dibuat dari berbagai macam ramuan seperti jahe, kayu secang, cengkeh, jeruk limau dll.


Aneka menu eksoktis di Bale Raos

Ø Kambing Panggang
Ø Bestik Lidah (Variasi sajian bestik lidah sapi dengan saus kental disajikan dengan kentang ongklok dan serces ( sejenis stoop sayuran favourite Sri Sultan HB IX )
Ø Bestik Jawa (sapi giling dengan kuah semur manis disajikan bersama dengan pure kentang dan sauted sayuran slah satu varian hidangan di era Sri Sultan HB VIII)
Ø Bebek Ungkep Goreng (Hidangan bebek yang diungkep dalam gula merah dengan bumbu bumbu dan digoreng dengan rasa manis).


Untuk Kenyamanan Pelayanan , Kami berharap anda dapat melakukan Reservasi terlebih dulu ke : (0274) 415 550  




SATE KLATHAK

Yogyakarta, Aktual.co — Sate kambing mungkin adalah hal yang biasa bisa ditemui dimana saja di setiap kota. Tapi, untuk di Yogyakarta, ada satu kuliner khas yang tak boleh anda lewatkan jika berkunjung. Yakni sate klatak.Sama sebenarnya dengan sate lainnya, dengan bahan daging kambing muda. Namun ada keunikan tersendiri yang mungkin hanya ada di jenis sate Klatak. Jika biasanya dimasak menggunakan bumbu aneka macam, sate Klatak yang terdapat di sepanjang jalan Imogiri Bantul atau terminal bus induk Giwangan ke selatan itu, hanya dibumbui dengan garam. Lebih khas lagi, cara memasak satenya pun tidak menggunakan tusuk bambu, melainkan dipanggang dengan menggunakan jeruji besi. Cara ini dipercaya dapat membuat matang daging secara lebih sempurna dan merata hingga ke serat-serat dalamnya karena sifat besi yang sangat baik dalam menghantarkan panas.
Salah satu warung sate klatak di wilayah jalan Imogiri ini yang cukup tersohor di Yogyakarta bahkan hingga luar kota, adalah warung yang berada di Pasar Jejeran, Bantul. Selain itu ada juga beragam warung lain sekitarnya yang juga cukup tenar seperti Pak Pong, Pak Jono, dan lainnya. Sejumlah seniman Yogya seperti Butet Kartaradjesa, politisi, hingga artis sering dijumpai tengah nongkrong dan menyantap sate Klatak ini.
Nama sate Klatak sendiri banyak yang menyebut karena berasal dari suara saat daging kambing dipanggang menggunakan jeruji besi itu.Biasanya dalam satu porsi sate ini dijual hanya dua tusuk. Tapi jangan salah, daging sate ini ukurannya lumayan besar sehingga dijamin akan mengenyangkan. Harga satu porsi biasanya Rp 12-13 ribu saja. Untuk menyantap sate yang hanya berbumbu garam ini, biasanya disediakan juga kuah yang terbuat dari kari. Warung di sepanjang jalan Imogiri khususnya Pasar Jejeran yang telah sepi pada malam hari biasanya akan ramai dipenuhi para pecinta sate Klatak dari berbagai daerah. Jarak sentra sate Klatak ini pun dari pusat Kota Yogyakarta tak berapa jauh, hanya butuh sekitar 20 menit menggunakan mobil.


Thiwul Ayu "Mbok Sum" Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta
Berkunjung ke suatu tempat, tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khas setempat. Berada di jajaran pegunungan selatan, daerah Mangunan memiliki sebuah kuliner "ndeso"  yang khas dan sayang jika dilewatkan.



Jika Anda bertandang menjelajahi daerah Mangunan, khusunya Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus Dlingo, tak ada salahnya jika mampir mencicipi makanan khas masyarakat di kawasan pegunungan kidul ini. Thiwul Ayu "Mbok Sum", sebuah kuliner khas yang siap menuntaskan rasa kangen maupun rasa penasaran Anda terhadap panganan pokok pada masa penjajahan ini.
Proses pengolahan tiwul pun memiliki proses yang cukup panjang dan sedikit rumit. Singkong yang telah dikupas kemudian dijemur hingga kering untuk kemudian diolah menjadi tepung gaplek. Setelah menjadi tepung, proses selanjutnya adalah menguleni adonan dengan cara menaruh tepung gaplek di atas tampah (tempat berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu) kemudian diperciki air sambil diaduk-aduk hingga berbentuk butiran-butiran. Adonan ini kemudian dikukus di dalam dandang hingga matang dan tak lupa diberi campuran daun pandan untuk menambah aroma pada tiwul. Untuk penambah rasa, biasanya tiwul ini diberi tambahan gula jawa dan parutan kelapa.



Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini pun sudah melakukan beberapa inovasi dalam hal rasa sehingga dapat diterima masyarakat di era sekarang ini. Ada beberapa pilihan rasa tiwul di tempat ini, antara lain adalah tiwul gula jawa, tiwul gula pasir, tiwul sambal, dan tiwul gurih. Pilihan saya jatuh kepada tiwul gula jawa. Tiwul ini memiliki tekstur yang kenyal, dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang berasal dari campuran gula jawa dan juga parutan kelapa. Aroma tiwul pun cukup khas dan menggugah selera. Rasa tiwul ayu "Mbok Sum" memang sangat pas bagi lidah saya yang berselera ndeso ini. Oh iya sekedar tips, bagi Anda yang tak terbiasa memakan tiwul, jangan memakan tiwul dalam keadaan perut yang kosong karena menjadikan perut terasa begah. Sebaiknya Anda makan makanan biasa dulu sebelum memakan tiwul untuk menghindari gangguan perut begah.
Walaupun menjual menu tradisional, namun pengemasan dan juga sistem pemasaran Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini sudah menerapkan cara yang modern lho ! Tiwul-tiwul dari tempat ini dimasukkan ke dalam kardus makanan dalam penjualannya. Anda pun dapat memesan tiwul ini melalui telepon maupun melalui email. Tak perlu khawatir untuk jauh-jauh datang ke daerah Mangunan, karena Thiwul Ayu "Mbok Sum" sudah menerapkan sistem delivery service ! Hanya saja untuk sistem pesan antar ini saya kurang tahu harus minimal berapa order dan juga ongkos kirimnya. Satu buah tiwul ayu ini dihargai Rp 3.500,00 saja, sangat murah bukan? Nah, bagi Anda penggemar kuliner otentik dan kebetulan sedang menjelajah daerah Mangunan, jangan lupa mampir ke warung Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini.

keterangan :
warung Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini biasanya sudah buka sejak pagi
CP untuk pemesanan :
HP 081 931 709 303
email : thiwulayu_mboksum@yahoo.com